KAJI JUMPA MU dan HARAPAN KE DEPAN

Menginjak 01 Januari 2021, salah satu hal yang paling membuat saya bersemangat adalah akan diadakannya Kaji Jumpa Mu edisi pertama tahun baru pada tanggal 08 Januari nanti. Berbeda dengan yang sebelumnya, acara direncanakan dimulai pada pukul 14.00 dengan menghadirkan seorang pembicara yang tengah bermukim di Prancis. Tajuk yang akan diangkat cukup menarik, yaitu “Turki dan Masa Depan Dunia Islam”. Namun tulisan ini bukan untuk mengulas tema itu, melainkan memberikan sedikit pandangan pada Kaji Jumpa Mu (Kajian Jumat Pagi Muhammadiyah) yang sejak dicetuskan karena pandemic, telah diselenggarakan sebanyak dua puluh sesi.

Anak-anak Minangkabau, terlebih yang hidup pada zaman dulu, memiliki sebuah momen inspiratif yang membangkitkan hasrat dan imajinasi untuk merantau. Momen yang dimaksud adalah saat seorang perantau yang baru pulang singgah di surau pada malam hari. Segera saja dia menjadi figur sentral, yang mana cerita-ceritanya ditunggu dan didengar oleh anak-anak surau. Cerita pengalaman rantau inilah yang senantiasa menggoda anak-anak itu untuk berkelana ke luar. Pembaca dapat membaca, salah satunya, buku “Semasa Kecil di Kampung” karya M. Radjab -seorang tokoh pers ternama Indonesia asal Nagari Sumpur- untuk mengetahui bagaimana inspiratifnya momen ini.

Saya membayangkan Kaji Jumpa Mu (Kajian Jumat Pagi Muhammadiyah) memiliki karakter filosofis yang sama dengan momen di atas. Dalam bahasa kekinian, Kaji Jumpa Mu adalah sebuah platform dimana kita dapat datang memperoleh dan berbagai pengalaman dari para perantau, yang dalam hal ini adalah setidaknya adalah “perantau-perantau intelektual”. Memang mungkin saja fisiknya tetap berada bersama kita, tapi perhatian dan pikir nya sudah merantau ke sudut-sudut yang tidak dan belum sempat kita jelajahi. Ketika seorang berbicara di Kaji Jumpa Mu, maka sudah pasti akan memberikan inspirasi kepada mereka yang hadir secara virtual. Yang mana inspirasi tersebut akan mempengaruhi hidup para pendengar dengan caranya masing-masing.

Dengan demikian, saya melihat Kaji Jumpa Mu adalah sebuah platform virtual yang berfungsi sebagai feeder. Sebagai feeder, ia adalah tempat di mana peserta diharapkan terinspirasi oleh materi yang didiskusikan, lalu melanjutkan inspirasi tersebut pada tahapan yang lebih serius. Sebagai contoh, ketika Kaji Jumpa Mu membahas, misalnya tentang Islam dan Pancasila, maka sebaiknya ada kelompok-kelompok yang ingin melanjutkan pembahasan tersebut secara lebih serius dan mendalam. Aspirasi dari kelompok yang terinspirasi ini tentunya harus dijawab Muhammadiyah di Minangkabau dengan membuka sesi diskusi lanjutan yang lebih intens, rinci dan mendalam. Jika hal seperti ini terwujud, saya membayangkan ini akan menjadi salah satu momentum untuk memperkuat karakter Muhammadiyah di Minangkabau sebagai gerakan intelektual.

Harapan Ke depan

Kaji Jumpa Mu telah menunjukkan diri sebagai platform yang inklusif dan berkualitas. Inklusifitas Kaji Jumpa Mu terlihat dari platform ini terbuka untuk semua. Ada pembicara datang dari luar lingkaran Muhammadiyah. Kaji Jumpa Mu juga tampaknya terbuka untuk semua tema. Audien yang hadir juga tidak pernah dibatasi. Ini adalah hal bagus karena Kaji Jumpa Mu telah memungkinkan terkumpulnya banyak perspektif yang tentunya berguna untuk Perserikatan. Kualitasnya tercermin dari tema-tema yang memang disampaikan oleh pakar di bidangnya masing-masing. Yang mana hal ini membuat kita semua dapat informasi yang lebih valid dan ilmiah. Karakter ini mesti dipertahankan untuk ke depannya.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah sisi dokumentasi dan publikasi media masa. Perlu ada kelompok yang bertugas untuk mencatat dan menyimpulkan diskusi dengan sistematika yang baik, sehingga orang-orang yang tidak sempat datang tetap dapat memperoleh gambaran umum tertulis dari jalannya diskusi. Sejauh ini, saya baru menemukan satu dokumentasi tertulis yang dapat dilihat pada link: http://shofwankarim.id/dtlbrt-irman-ajak-berpolitik-dengan-hati-petik-keteladanan-natsirsoekarno.html. Publikasi media masa tentang kegiatan Kaji Jumpa Mu juga penting untuk memastikan lebih banyak orang yang tahu tentang platform ini. Lagi-lagi sejauh ini hanya satu saja kegiatan Kaji Jumpa Mu yang terpublikasi di media masa, yaitu pada link: https://hariansinggalang.co.id/irman-natsir-dan-bung-karno-tetap-bersahabat-meski-berseberangan/. Bukan tidak mungkin dalam jangka panjang, segala dokumentasi dan publikasi dari Kaji Jumpa Mu dapat dijadikan buku yang memperkaya khazanah intelektual Muhammadiyah di Minangkabau.

Hal terakhir. Nama kegiatan, yaitu “Kaji Jumpa Mu” harus dianggap sebagai aset kekayaan intelektual yang harus dilindungi. Rasa bahasa yang saya miliki melihat bahwa Kaji Jumpa Mu adalah nama yang indah dan baik. Sebagai singkatan atau abreviasi, Kaji Jumpa Mu berhasil merangkum seluruh unsur dari nama dasarnya: Kajian Jumat Pagi Muhammadiyah. Lebih dari pada itu, sebagai abreviasi atau singkatan “Kaji Jumpa Mu” sarat dengan nuansa positif. Kata “Kaji” adalah bahasa Minang untuk menggambarkan pembicaraan yang serius. Sedangkan “Jumpa Mu” mengisyaratkan silaturahmi yang penuh dengan cinta dan kehangatan. Tidak berlebihan rasanya jika nama ini didaftarkan, lalu menjadi salah satu pusako tinggi Muhammadiyah Minangkabau.  Wallahu a’lam bisshawab.

Published by inaska

selalu berusaha menghayati keadaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: