“Membaca Dunia Barat dan Islam, Cahaya di Cakrawala”

Pendahuluan

Tulisan ini adalah hasil bedah buku Dunia Barat dan Islam, Cahaya di Cakrawala. Harus diakui bahwa tulisan ini bukanlah hasil membaca yang berdalam-dalam dan tenang, sehingga berkemungkinan besar akan ada beberapa hal yang kurang akurat. Tentu saja kekurang-akuratan itu dapat diluruskan langsung oleh penulisnya.

Tulisan ini akan dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah upaya untuk mendefinisikan buku ini; buku seperti apa buku ini sebenarnya. Bagian kedua adalah tentang term yang dipakai pada judul, yaitu “Dunia Barat” dan “Islam.” Saya akan mengurai pemahaman saya tentang term ini. Bagaimana mungkin istilah Barat yang secara etimologis merujuk pada tempat dapat disandingkan dengan Islam yang secara etimologis merujuk pada agama. Bagian ketiga adalah refleksi pribadi saya setelah menyimpulkan semangat isi buku ini. Di sana saya akan menyampaikan opini pribadi tentang bagaimana Cahaya di Cakrawala dapat terwujud dengan baik.  

Gores Tangan Intelektual-Aktivis

Sejak pandangan pertama, buku ini tampil sebagai karya yang berwibawa. Warna yang cenderung biru pekat membuat saya teringat pada kedalaman samudra, yang mana hal ini memunculkan kesan bahwa ini adalah buku yang “berat”. Kesan ini diperkuat dengan beberapa hal lain, seperti ketebalan buku yang tidak kurang dari 497 halaman dan desain sampul yang elegan. Apalagi buku ini juga diterbitkan oleh salah satu penerbit paling bergengsi di tanah air, yang mana saya bermimpi bahwa suatu saat di masa depan, saya punya buku yang diterbitkan oleh penerbit seperti ini.

Sejauh yang saya tahu, penulis buku; Sudibyo Markus, adalah seorang lulusan Fakultas Kedokteran UGM yang aktif terlibat dalam pergerakan dakwah Muhammadiyah, utamanya dalam urusan luar negeri. Keaktifan itu membuat namanya dicatat sebagai aktor utama dalam beberapa aktifitas penting, seperti pendiri IMM, perintis gerakan humanitarian Muhammadiyah, bekerjasa sama dengan beberapa lembaga kemanusiaan global, dan pernah turun langsung mendamaikan konflik di Mindanao, Filipina. Di Muhammadiyah pernah menjalankan tugas sebagai Ketua Majelis Kesehatan dan Kesejahteraan Masyarakat Muhammadiyah (2000-2005), Ketua PP Muhammadiyah (2005-2010) dan Wakil Ketua Hubungan Luar Negeri PP Muhammadiyah (2010-2020). Pendek kata, penulis buku adalah tokoh dan intelektual senior yang sangat dihormati karena posisi dan perannya selama ini.

Dengan demikian, kita dapat mengetahui bahwa buku ini adalah buku yang ditulis oleh seseorang yang berkarakter sebagai intelektual-aktivis, ketimbang intelektual-akademisi. Hal ini pula yang membuat buku ini ditulis dengan gaya dan struktur yang berbeda dengan buku-buku yang ditulis oleh para akademisi yang punya afiliasi dengan perguruan tinggi atau lembaga penelitian tertentu. Saya pribadi, yang merupakan “akademisi baru mulai”, cenderung secara umum melihat buku ini sebagai opini penulis dan kumpulan informasi penting yang dapat menjadi inspirasi awal penelitian. Misalnya, penulis buku mengatakan bahwa peran figur publik seperti Zinedine Zidane dan Moh Salah telah pasti meningkatkan familiarity masyarakat Eropa terhadap Islam (hal 57-56). Karena pendapat ini ditulis tanpa disertai bukti berupa hasil penelitian, tentu saja ini tidak dapat diterima begitu saja. Namun ini memantik inspirasi penelitian. Sejauh mana figur-figur Muslim terkenal berkontribusi pada pembentukan familiarity? Apakah familiarity berhubungan dengan perubahan attitude masyarakat Barat dengan Islam, dan ada banyak pertanyaan kritis lainnya.  

Tentang “Dunia Barat” dan “Islam”

Kembali lagi ke judul, buku ini menggunakan term “Dunia Islam” dan “Dunia Barat”. Ketika pembaca mulai membaca buku ini lebih jauh, maka -secara tidak langsung- terlihat bahwa apa yang dimaksudkan penulis dengan term “Dunia Barat” pada judul merujuk pada dua entitas, yaitu Eropa dan Kristen (hal 5-27). Bagi sebagian pembaca, mungkin ini agak sedikit membingungkan, ditambah lagi dengan tidak ditemukan penjelasan khusus tentang hal ini. Pertanyaan yang tersisa dari hal ini adalah; apakah benar “Dunia Barat” adalah kata lain dari Eropa dan Kristen seperti yang dimaksudkan oleh penulis?

Menurut hemat saya, hal ini dapat dijelaskan dengan membaca, salah satunya, Bernard Lewis tentang Europe and Islam dalam bukunya yang berjudul Islam and the West. Secara etimologis, kata “Islam” dan “Eropa” memang tidak sebanding. Islam adalah sebuah agama, sedangkan Eropa adalah sebuah kawasan. Eropa identik dengan Kristen. Kristen adalah agama bagi Eropa. Namun definisi agama yang dipahami oleh Muslim dan Nasrani tidaklah persis sama. Misalnya, bagi Muslim agama mencakup seluruh aspek kehidupan, yang oleh alam pikiran Nasrani agama bukanlah hal yang semacam itu. Bagi Kristiani, agama diatur dalam struktur organisasi yang sangat hierarkis, yang mana hal itu tidak ada dalam alam pikiran Muslim. Terlepas dari ketidak-sepadanan yang ada, kedua kata ini, menurut Lewis, merepresentasikan peradaban yang berbeda. Ia menulis (hal 5): “Both terms, therefore, “Europe” and “Islam,” represent a primary civilizational self-definition of the entities which they designate, and may be seen as counterparts, whose association is not inappropriate.”  Jika kita semua sepakat pada cara pandang Lewis ini, maka menyandingkan term “Islam” dan “Barat”, seperti yang terlihat pada judul buku adalah sesuatu yang memiliki pijakan. Bahkan cara ini persis seperti cara yang digunakan Lewis, yang mana ia sendiri menjuduli bukunya dengan “Islam and the West”.

Kendatipun demikian, saya melihat penggunaan term “Barat” dalam buku ini masih menyisakan problem yang perlu didiskusikan. Kesan yang saya peroleh sejauh ini adalah bahwa term “Barat” dalam buku ini adalah sama dengan Kristen. Hal ini terlihat jelas hingga bagian penutup. Misalnya ketika penulis menulis (hal 438): “umat beragama, umat Islam dan umat Kristen, yang merupakan separuh lebih dari seluruh penduduk bumi ini, sebagai pribadi dan bersama-sama, harus sanggup melaksanakan fungsinya sebagai instrumen perdamaian”. Apakah Barat betul-betul sama dengan Kristen seperti yang dikesankan dalam buku ini?

Saya rasa ini adalah salah satu pertanyaan penting yang mungkin dapat dijawab oleh penulis buku atau oleh pembacanya. Terdapat sumber yang mengatakan bahwa Kristen memang bagian yang tak terpisahkan dari Barat. Namun, Kristen bukanlah dasar sesungguhnya dari fondasi peradaban Barat. Syed Muhammad Naquib Al-Attas seperti yang kita jumpai dalam karyanya “Islam and Secularism”. Bab pertama buku itu yang berjudul “the Contemporary Western Christian Background” memberi kesan yang kuat bahwa Barat dan Kristen sesungguhnya adalah hal yang berbeda. Menurut al-Attas (hal 2-3) Barat kontemporer lewat intelektual-intelektual mereka identik sekali dengan kampanye secularization, yaitu upaya untuk menyelaraskan Kristen sesuai dengan time and space yang ada. Bagi al-Attas, Kristen Eropa (Western Christianity) adalah sebuah entitas yang berbeda dengan Kristen yang dipercaya memiliki akar sesungguhnya di Jerusalem. Ia menulis (hal 20) “Original and True Christianity conformed with Islam.”  Ia juga menulis (hal 21) “Those who from the very beginning had altered the original and departed from the true teaching of Jesus (Peace be upon him) were creative initiators of Western Christianity, the Christianity now known to us.” Bagi al-Attas Kristen Eropa adalah jenis Kristen yang telah berpadu dengan western worldview. Kristen yang telah berevolusi dan menyesuaikan diri dengan peradaban Eropa dengan segala kepentingannya. Apakah ini ada hubungannya dengan pernyataan Frans Magis Suseno, seperti yang dikutip oleh penulis (hal 274) bahwa permusuhan antara umat Islam dan Kristen sepanjang sejarah bukan didasari oleh faktor agama? Apakah faktor Eropa-nya yang berkontribusi? Menarik untuk mengetahui bagaimana penulis mengulas hal ini dan bagaimana ia berkontribusi pada pasang surut hubungan Islam dan Barat.

“Tantangan Untuk Cahaya di Cakrawala”

Menurut penulis buku, Konsili Vatikan II dan “a Common Word Between Us and You” adalah kombinasi yang memberikan harapan besar, sebuah harapan yang disebut dengan “Cahaya di Cakrawala.” Ketika membaca hal ini saya teringat dengan relasi antara saya dengan dua kawan Katolik di Irlandia. Ming adalah mahasiswa S3 University of Manchester, tinggal di Cork. Pria campuran India-China itu telah menjalani masa bakti sebagai misionaris di Myanmar selama lebih kurang 20 tahun. Sekarang dia tinggal di Cork Ireland, bersama istrinya yang memang seorang Corkian. Kami berapa kali ngopi, kadang di coffee shop dan kadang di akomodasi saya. Salah satu hal yang sering kami diskusikan adalah persoalan agama. Diskusi-diskusi itu seperti studi perbandingan agama, dimana saya banyak memperoleh informasi tentang Christianity dari perspektifnya. Sebaliknya dia memperoleh informasi tentang Islam dari perspektif saya pribadi. Diskusi itu, menurut saya, lebih banyak mencari titik persamaan antara agama masing-masing. Menariknya, Ming pernah mengeluhkan nilai-nilai Barat kontemporer yang menurutnya jauh dari nilai-nilai Kristen dan nilai Asia yang ia anut. Ia mengkritik cara bergaul, tata cara pakaian, hingga lunturnya nilai-nilai keluarga. Katanya kurang lebih begini “I am taking care my father in-law, to show my children the way they should take care the elderly people. I want them to treat me the same way.”  Menurutnya ini adalah nilai Kristen dan Asia. Saya setuju. Suatu ketika saya berkata “For me, Islam is the right way, for you Christianity is the right way.” Dan dia setuju.

Michel Drogan adalah seorang penganut Katolik yang taat. Bagi saya Michel adalah anomali. Pria 63 tahun itu sama sekali tidak merokok dan menyentuh alkohol. Ketika dia mengakui itu, saya tercengang dan dia bercanda “I am a good Muslim.” Namun saya percaya, bahwa kebisaan itu muncul dari nilai agama yang ia yakini. Kebetulan saja itu mirip dengan ajaran Islam. Michel adalah sosok yang intens bergaul dengan Muslim. Berkali-kali dia menceritakan biblical stories dan berkali-kali juga dia bertanya tentang ajaran Islam. Dia mengaku selalu berdoa untuk saya, dan dia pun meminta saya berdoa untuknya. Suatu ketika dia bertanya “Isral, I pray to my God to make you having peace in your heart?” Ketika dia bertanya apa doa saya untuk dirinya, saya jawab “I pray to Allah, may He guide you in your life.” Dia tersenyum saja, mungkin dia tahu bahwa ujung dari doa itu adalah agar dia mendapat hidayah. Suatu kali dia berkata, bahwa persoalan kita, yaitu Muslim dan Christian adalah ignorance.  

Mungkin interaksi seperti ini yang disebut sebagai Cahaya di Cakrawala. Setiap pihak meyakini kebenaran agama masing-masing, tanpa harus melecehkan keyakinan masing-masing dan saling menghormati antara satu dengan yang lain. Pengalaman di atas adalah pengalaman pribadi. Dan hal seperti itu adalah lumrah oleh banyak Muslim yang hidup di Eropa. Saya meyakini bahwa Muslim Eropa memandang interaksi yang baik dengan para Christian adalah bentuk dakwah dan ibadah. Hal yang berbeda, biarlah berbeda dan tidak perlu untuk dipaksakan menjadi sama. Inilah Cahaya di Cakrawala; ide dasar di balik ditulisnya ini karya.

Penutup

Ini adalah buku berharga tentang sejarah interaksi dua agama besar dunia, mulai dari era perang salib hingga era seputar lahirnya Konsili Vatikan II dan a Common Word. Membaca buku ini memberi perspective baru tentang apa yang terjadi seputar interaksi kedua agama, termasuk pada kejadian-kejadian yang terjadi baru-baru ini.

Akhir kata, saya mengucapkan Terima kasih kepada Pak Sudibyo Markus atas karya besar ini. Terus terang karya ini membuka beberapa hal baru, yang tidak sempat saya tulis di sini, namun mungkin akan menjadi proyek riset saya di masa yang akan datang. Semoga Allah menjadikan ini sebagai amal jariyah untuk beliau. Aaamiiin.

Referensi

Al-Attas, S. M. A.-N. (1993). Islam and Secularism. Perpustakaan Negara Malaysia.

Lewis, B. (1993). Islam and the West. OUP USA.

Markus, S. (2019). Dunia Barat dan Islam, Cahaya di Cakrawala. Gramedia Pustaka Utama.

*Tulisan ini ditulis dalam rangka bedah buku “Dunia Barat dan Islam, Cahaya di Cakrawala”, yang diadakan oleh UM Sumbar, pada Sabtu 27 Maret 2021, pukul 09.00. Bedah buku itu menghadirkan penulis buku, yaitu Sudibyo Markus dan pembedah lainnya, yaitu Prof. Dr. Komaruddin Hidayat.

Published by inaska

selalu berusaha menghayati keadaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: