Suara Ruang Mana yang Lebih Engkau Percaya?

Sewaktu masih bocah hingga remaja, sudah cukup sering juga terdengar guru-guru menyebut kata-kata globalisasi. Biasanya diksinya begini “era globalisasi.” Waktu itu cukup mengerti penjelasan guru, bahwa dunia ini mengerut dan menyempit. Walau luas, ia ibarat kampung kecil saja. Waktu itu mengerti, tapi tidak sepenuhnya paham.

Semakin ke sini, perlahan-lahan mulai paham bagaimana hidup kampung kecil yang bernama dunia itu. Engkau dapat ke sana kemari, bertemu dengan siapapun, dalam waktu yang lebih-lebih singkat. Tidak perlu usaha sepayah yang dilakukan Ibnu Bathutha untuk bisa melihat dan mengalami dunia seberang.

Sekarang kampung dunia itu sudah semakin menyusut. Dia terus melipat diri, hingga mungkin sekarang sudah layaknya sebesar sebuah rumah saja. Sorak sorai pendukung sepak bola dari belahan bumi lain terdengar ke kamar kita. Seolah-olah mereka sedang berkumpul di ruang sebelah. Jalan raya di sebuah negara yang terletak di punggung bumi sebelah sana, bisa dilihat-lihat dari kamar.

Seiring dengan itu, kepintaran seorang ilmuwan mudah menjalar. Kebodohan juga mudah menular. Semangat kesalehan dan kealiman mudah sekali masuk kamar pribadi, seperti halnya bau masakan ibu yang menyelinap dari dapur. Pun sebaliknya, godaan kejahatan dan kemaksiatan juga mudah menyeruak.

Belakangan ini, rumah-rumah kita bising oleh suara bom. Gemeretak bangunan runtuh. Teriakan orang-orang kesakitan. Tangis mereka yang bersedih. Suara-suara itu berasal dari ruang yang bernama Palestina.

Namun kebisingan itu rupanya tidak tunggal. Ada pula suara-suara lain dari ruang yang bernama Israel. Berteriak membela diri. Bahwa kami tidak salah. Kami ini selalu diganggu. Kami ini tidak berdosa. Kami juga diserang. Apakah salah kami membela diri? Dan lain sebagainya.

Suara ruang mana yang lebih engkau percaya?

Sumber gambar: https://news.detik.com/berita/d-5359001/suara-dentuman-terdengar-di-malang

Attacks on Al-Aqsa and Apathy of the World; Serangan Terhadap al-Aqsa dan Ketidakpedulian Dunia

Judul asli: Attacks on Al-Aqsa and Apathy of the World, oleh Ahsan Shafiq.

Diterjemahkan oleh Isral Naska

Siapa yang sangka keputusan pengadilan yang menyebabkan pengusiran paksa beberapa orang Palestina dari Syeikh Jarrah menjadi pemicu terjadinya serangan penuh terhadap penduduk Gaza. Ketika saya menulis ini, sudah lebih 24 jam berlalu sejak jet-jet tempur Israel melakukan pengeboman terhadap penduduk jalur Gaza yang malang. Ini menyebabkan total korban luka-luka di Gaza dan Tepi Barat berjumlah 700 orang, yang mana 500 di antaranya harus dirawat di rumah sakit. Keadaan ini sudah berlangsung selama seminggu sejak terjadinya serangan sporadis bahkan brutal terhadap orang-orang yang tengah shalat di Masjid al-Aqsha, masjid yang dikenal sebagai masjid suci ketiga. Karena situasi itu, penduduk Muslim Gaza dan Tepi Barat terpaksa menyambut Idul Fitri di tengah pertumpahan darah yang mengerikan dan harus memanggul mayat-mayat, ketika Muslim lainnya bersiap-siap untuk merayakan Idul Fitri.

Rakyat Palestina sudah lama terjebak dalam rentetan penderitaan akibat tindak tanduk negara apartheid Israel. Negara itu senantiasa membuat sengsara rakyat Palestina dengan melakukan pengeboman terhadap para wanita dan anak-anak. Israel juga melakukan banyak penghancuran rumah dan pengusiran paksa. Fakta inilah yang mendasari Sam al Arian, seorang profesor America berdarah Palestina, berkata: “apa yang sedang terjadi di Syeikh Jarrah dan Masjid al-Aqsa adalah lanjutan dari penzaliman hak-hak rakyat Palestina oleh Zionis…Tujuan utama gerakan Zionis adalah untuk mengusir mereka dari tanah mereka dan mendirikan pemukiman Yahudi di tanah itu. Itu adalah sudah menjadi tujuan Zionis sejak dulu dan itu lah yang mereka lakukan sekarang.” Karena itu serangkaian pengusiran paksa yang sedang terjadi adalah bagian dari rencana Zionis untuk konsisten mewujudkan emigrasi terorganisir orang-orang Yahudi dan menyapu bersih orang-orang Palestina dari seluruh daerah mereka.

Pengerahan alat-alat berat untuk menghancurkan desa-desa orang Palestina dan mengusir mereka dari rumah mereka telah dilakukan terus menerus sejak Maret 2020. Lebih dari 163 rumah dan bangunan telah dihancurkan di Jerusalem Timur, yang menyebabkan terusirnya 359 rakyat Palestina termasuk 167 anak. Kendatipun hal itu bukan hal baru, namun bagaimana peristiwa belakangan ini dapat terjadi? Awal tahun ini Pengadilan Distrik Jerusalem menetapkan setidaknya enam keluarga harus meninggalkan rumah mereka di Syeikh Jarrah pada bulan Mei, padahal mereka telah hidup di sana dari generasi ke generasi. Pengadilan yang sama juga memutuskan agar 7 keluarga lain harus meninggalkan rumah mereka selambatnya pada tanggal 1 Agustus. Secara keseluruhan, 58 orang, termasuk 17 anak-anak dipaksa untuk meninggalkan rumah-rumah mereka untuk memberi ruang bagi pemukiman baru orang-orang Yahudi. Untuk meredam perlawanan publik terhadap penggusuran yang akan segera dilakukan terhadap rumah-rumah keluarga Palestina yang terletak di kawasan Syeik Jarrah itu, pihak Israel memasang penghalang di Masjid Al-Aqsha pada tanggal 12 April, sehingga orang-orang Palestina di Tepi Barat tidak dapat melaksanakan shalat di sana. Ini memicu protes melawan keputusan pengadilan yang dilakukan oleh banyak pemuda pada tanggal 13 April 2021. Seiring provokasi yang terus dilakukan pihak Israel, protes pun membesar. Ketika protes menguat, barikade yang menutup Masjid al-Aqsa berhasil dihancurkan, polisi Israel mundur dan rakyat Palestina berhasil menguasai kembali gerbang Damaskus di Masjid Al-Aqsa.

Walaupun demikian, tentara Israel tidak berhenti melakukan penggusuran paksa terhadap keluarga Palestina sejak awal bulan ini. Setelah bentrok jarak dekat dengan pemuda Palestina pada minggu pertama Mei, polisi Israel menyerang jamaah shalat Masjid al-Aqsa yang terletak di kawasan kota tua Jerusalem pada Jumat, tanggal 07 Mei. Serangan brutal itu menyebabkan 205 jamaah luka-luka, 88 orang di antaranya dilarikan ke rumah sakit. Sementara yang lain, mendapat perawatan jalan. Serangan brutal tentara penjajah Israel pada tanggal 08 Mei, menyebabkan 100 orang Palestina luka-luka, banyak yang terkena peluru karet dan stunt grenade yang dipakai pasukan Israel.

Rentetan kejadian itu akhirnya memancing reaksi dunia. Turki menjadi yang terdepan dalam hal ini. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyebut serangan terhadap Masjid al-Aqsha sebagai “kejahatan keji” untuk menegaskan dukungannya terhadap Palestina. Wakil presiden Fuat Oktay menyebut tindakan Israel sebagai “kejahatan perang” dan “kejahatan kemanusiaan.” Reaksi juga kemudian ditunjukkan oleh Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan. Ia menyerukan agar seluruh dunia melakukan intervensi dan mewujudkan perdamaian di daerah itu. Iran menyeru PBB dan badan internasional yang berkaitan agar melakukan tugas mereka untuk melawan kejahatan perang Israel. Beberapa negara lain seperti Turkish Republic of Northern Cyprus (TRNC), Lebanon, Tunisa, Mesir, dan Indonesia turut mengutuk serangan Isral pada komplek Masjid al-Aqsha.

Di hari “Quds Day” yang rutin diselenggarakan tiap tahun, para demonstran di Iran, Pakistan, Iraq, Gaza dan Syiria mengadakan demonstrasi untuk menunjukkan dukungan mereka. Setelah serangan terhadap penduduk sipil, negara-negara Muslim berkumpul di depan konsulat Israel. Ribuan orang melakukan demonstrasi pada hari Senin yang lalu di kedutaan besar Israel di Ankara dan konsulat mereka di Istanbul. Hal yang sama juga dilakukan di negara-negara lain seperti Pakistan dan UK. Protes dilakukan di penjuru UK untuk menunjukkan solidaritas terhadap al-Aqsha. Protes yang sama juga terlihat di banyak negara lain. Setelah terjadi di Mesir dan Jordan, aksi juga terjadi di kedutaan besar Israel di Amman, mengutuk tindakan Tel Aviv yang terus menaikkan eskalasi serangan terhadap penduduk Palestina di daerah pendudukan Israel di Jerusalem Timur.

Respon dunia Barat dan organisasi internasional tidak terlalu kentara. Prancis, Jerman, Spanyol dan Inggris mendorong Israel untuk menunda pembangunan pemukiman di daerah pendudukan di Tepi Barat. PBB juga menghimbau Israel untuk menghentikan pengusiran paksa di daerah yang diserobot Israel di Jurusalem Timur. PBB juga memperingati bahwa tindakan itu dapat dikategorikan kejahatan perang.

Sementara itu, Hamas sebelumnya memperingatkan Israel untuk melakukan pembalasan jika eskalasi dari pihak Israel tidak dihentikan. Diduga pembalasan yang dimaksud Hamas itu dilakukan dengan menembakkan roket. Israel yang sedang melakukan agresi di Tepi Barat lalu kemudian bersiap untuk meluncurkan serangan bersenjata terhadap Gaza. Akibat pengeboman oleh pesawat-pesawat Israel di Gaza, 24 orang dilaporkan meninggal dunia dalam kurang dari 24 jam. 9 orang korban meninggal adalah anak-anak. Ini terjadi tidak lama setelah pihak barat bersikap apatis (tidak peduli)/setengah-setengah dalam mengutuk Israel. Setelah terjadi saling serang antara Israel dan Hamas, pihak barat lalu mengulang-ulang retorika lama yang menyalahkan Hamas atas kekerasan yang terjadi. Atau setidaknya mereka mengkritisi kedua belah pihak, yang mana hal ini mengaburkan kritik terhadap kekejian tindakan apartheid Israel. Sekjen PBB melakukan pertemuan membahas kekacauan yang terjadi di Jerusalem, namun tidak mengeluarkan pernyataan apapun. Juru bicara pemerintah Amerika Serikat, Ned Price, menyebut serangan roket Hamas sebagai “tindakan yang tidak dapat diterima,” sambil menutup mata atas kekerasan yang dilakukan oleh pihak Israel. Sekretaris pemerintahan Amerika Serikat, Antony Blinken, menyatakan bahwa serangan roket dari Gaza harus dihentikan secepatnya, dan menyeru seluruh pihak untuk mengurangi ketegangan. Inggris juga turut mengutuk serangan roket dari Gaza. Menteri luar negeri Jerman, Heiko Maas berkicau di Twitter “tidak ada yang dapat menjustifikasi roket yang ditembakkan ke penduduk sipil Israel.”

Banyak media barat juga mengulang-ulang pernyataan sumbang yang menyebut serangan Israel sebagai pembelaan diri. Melihat fakta ini, penulis dan akademisi Denijal Jegic menulis bahwa “media barat yang mengaburkan Israel sebagai penyebab kekerasan telah menyebabkan pemahaman yang salah tentang keseimbangan kekuatan antara mereka dan rakyat Palestina… Kenyataannya, satu pihak adalah rezim apartheid yang dipersenjatai senjata nuklir yang memiliki kekuatan hukum, politik dan militer terhadap pihak lain yang tengah memperjuangkan dan mempertahankan hak-hak dasar mereka.”

Reaksi ephemeral (reaksi yang tidak bertahan lama) dari negeri-negeri Muslim adalah permasalahan di balik serangan terhadap kota suci dan setiap kali Gaza diserang. Ketika serangan terhadap rakyat Palestina dimulai, pemerintahan-pemerintahan kita menyuarakan rangkaian pengutukan, namun sulit untuk melahirkan ide nyata untuk melawan tindakan Zionis. Selama sikap seperti ini bertahan, pernyataan sporadis mengutuk Zionis tidak akan cukup untuk memastikan keamanan rakyat Palestina di tanah mereka. Selama kesadaran Muslim masih mati, wanita dan anak-anak Palestina akan selalu berjuang di Jalur Gaza, seperti halnya 313 orang tentara perang Badar.   

Link artikel asli: https://ilke.org.tr/attack-on-al-aqsa-and-apathy-of-the-world/3030

Sumber gambar: https://www.inews.id/news/internasional/pemimpin-hamas-ismail-haniya-peringatkan-israel-jangan-sentuh-masjid-al-aqsa

“Membaca Dunia Barat dan Islam, Cahaya di Cakrawala”

Pendahuluan

Tulisan ini adalah hasil bedah buku Dunia Barat dan Islam, Cahaya di Cakrawala. Harus diakui bahwa tulisan ini bukanlah hasil membaca yang berdalam-dalam dan tenang, sehingga berkemungkinan besar akan ada beberapa hal yang kurang akurat. Tentu saja kekurang-akuratan itu dapat diluruskan langsung oleh penulisnya.

Tulisan ini akan dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah upaya untuk mendefinisikan buku ini; buku seperti apa buku ini sebenarnya. Bagian kedua adalah tentang term yang dipakai pada judul, yaitu “Dunia Barat” dan “Islam.” Saya akan mengurai pemahaman saya tentang term ini. Bagaimana mungkin istilah Barat yang secara etimologis merujuk pada tempat dapat disandingkan dengan Islam yang secara etimologis merujuk pada agama. Bagian ketiga adalah refleksi pribadi saya setelah menyimpulkan semangat isi buku ini. Di sana saya akan menyampaikan opini pribadi tentang bagaimana Cahaya di Cakrawala dapat terwujud dengan baik.  

Gores Tangan Intelektual-Aktivis

Sejak pandangan pertama, buku ini tampil sebagai karya yang berwibawa. Warna yang cenderung biru pekat membuat saya teringat pada kedalaman samudra, yang mana hal ini memunculkan kesan bahwa ini adalah buku yang “berat”. Kesan ini diperkuat dengan beberapa hal lain, seperti ketebalan buku yang tidak kurang dari 497 halaman dan desain sampul yang elegan. Apalagi buku ini juga diterbitkan oleh salah satu penerbit paling bergengsi di tanah air, yang mana saya bermimpi bahwa suatu saat di masa depan, saya punya buku yang diterbitkan oleh penerbit seperti ini.

Sejauh yang saya tahu, penulis buku; Sudibyo Markus, adalah seorang lulusan Fakultas Kedokteran UGM yang aktif terlibat dalam pergerakan dakwah Muhammadiyah, utamanya dalam urusan luar negeri. Keaktifan itu membuat namanya dicatat sebagai aktor utama dalam beberapa aktifitas penting, seperti pendiri IMM, perintis gerakan humanitarian Muhammadiyah, bekerjasa sama dengan beberapa lembaga kemanusiaan global, dan pernah turun langsung mendamaikan konflik di Mindanao, Filipina. Di Muhammadiyah pernah menjalankan tugas sebagai Ketua Majelis Kesehatan dan Kesejahteraan Masyarakat Muhammadiyah (2000-2005), Ketua PP Muhammadiyah (2005-2010) dan Wakil Ketua Hubungan Luar Negeri PP Muhammadiyah (2010-2020). Pendek kata, penulis buku adalah tokoh dan intelektual senior yang sangat dihormati karena posisi dan perannya selama ini.

Dengan demikian, kita dapat mengetahui bahwa buku ini adalah buku yang ditulis oleh seseorang yang berkarakter sebagai intelektual-aktivis, ketimbang intelektual-akademisi. Hal ini pula yang membuat buku ini ditulis dengan gaya dan struktur yang berbeda dengan buku-buku yang ditulis oleh para akademisi yang punya afiliasi dengan perguruan tinggi atau lembaga penelitian tertentu. Saya pribadi, yang merupakan “akademisi baru mulai”, cenderung secara umum melihat buku ini sebagai opini penulis dan kumpulan informasi penting yang dapat menjadi inspirasi awal penelitian. Misalnya, penulis buku mengatakan bahwa peran figur publik seperti Zinedine Zidane dan Moh Salah telah pasti meningkatkan familiarity masyarakat Eropa terhadap Islam (hal 57-56). Karena pendapat ini ditulis tanpa disertai bukti berupa hasil penelitian, tentu saja ini tidak dapat diterima begitu saja. Namun ini memantik inspirasi penelitian. Sejauh mana figur-figur Muslim terkenal berkontribusi pada pembentukan familiarity? Apakah familiarity berhubungan dengan perubahan attitude masyarakat Barat dengan Islam, dan ada banyak pertanyaan kritis lainnya.  

Tentang “Dunia Barat” dan “Islam”

Kembali lagi ke judul, buku ini menggunakan term “Dunia Islam” dan “Dunia Barat”. Ketika pembaca mulai membaca buku ini lebih jauh, maka -secara tidak langsung- terlihat bahwa apa yang dimaksudkan penulis dengan term “Dunia Barat” pada judul merujuk pada dua entitas, yaitu Eropa dan Kristen (hal 5-27). Bagi sebagian pembaca, mungkin ini agak sedikit membingungkan, ditambah lagi dengan tidak ditemukan penjelasan khusus tentang hal ini. Pertanyaan yang tersisa dari hal ini adalah; apakah benar “Dunia Barat” adalah kata lain dari Eropa dan Kristen seperti yang dimaksudkan oleh penulis?

Menurut hemat saya, hal ini dapat dijelaskan dengan membaca, salah satunya, Bernard Lewis tentang Europe and Islam dalam bukunya yang berjudul Islam and the West. Secara etimologis, kata “Islam” dan “Eropa” memang tidak sebanding. Islam adalah sebuah agama, sedangkan Eropa adalah sebuah kawasan. Eropa identik dengan Kristen. Kristen adalah agama bagi Eropa. Namun definisi agama yang dipahami oleh Muslim dan Nasrani tidaklah persis sama. Misalnya, bagi Muslim agama mencakup seluruh aspek kehidupan, yang oleh alam pikiran Nasrani agama bukanlah hal yang semacam itu. Bagi Kristiani, agama diatur dalam struktur organisasi yang sangat hierarkis, yang mana hal itu tidak ada dalam alam pikiran Muslim. Terlepas dari ketidak-sepadanan yang ada, kedua kata ini, menurut Lewis, merepresentasikan peradaban yang berbeda. Ia menulis (hal 5): “Both terms, therefore, “Europe” and “Islam,” represent a primary civilizational self-definition of the entities which they designate, and may be seen as counterparts, whose association is not inappropriate.”  Jika kita semua sepakat pada cara pandang Lewis ini, maka menyandingkan term “Islam” dan “Barat”, seperti yang terlihat pada judul buku adalah sesuatu yang memiliki pijakan. Bahkan cara ini persis seperti cara yang digunakan Lewis, yang mana ia sendiri menjuduli bukunya dengan “Islam and the West”.

Kendatipun demikian, saya melihat penggunaan term “Barat” dalam buku ini masih menyisakan problem yang perlu didiskusikan. Kesan yang saya peroleh sejauh ini adalah bahwa term “Barat” dalam buku ini adalah sama dengan Kristen. Hal ini terlihat jelas hingga bagian penutup. Misalnya ketika penulis menulis (hal 438): “umat beragama, umat Islam dan umat Kristen, yang merupakan separuh lebih dari seluruh penduduk bumi ini, sebagai pribadi dan bersama-sama, harus sanggup melaksanakan fungsinya sebagai instrumen perdamaian”. Apakah Barat betul-betul sama dengan Kristen seperti yang dikesankan dalam buku ini?

Saya rasa ini adalah salah satu pertanyaan penting yang mungkin dapat dijawab oleh penulis buku atau oleh pembacanya. Terdapat sumber yang mengatakan bahwa Kristen memang bagian yang tak terpisahkan dari Barat. Namun, Kristen bukanlah dasar sesungguhnya dari fondasi peradaban Barat. Syed Muhammad Naquib Al-Attas seperti yang kita jumpai dalam karyanya “Islam and Secularism”. Bab pertama buku itu yang berjudul “the Contemporary Western Christian Background” memberi kesan yang kuat bahwa Barat dan Kristen sesungguhnya adalah hal yang berbeda. Menurut al-Attas (hal 2-3) Barat kontemporer lewat intelektual-intelektual mereka identik sekali dengan kampanye secularization, yaitu upaya untuk menyelaraskan Kristen sesuai dengan time and space yang ada. Bagi al-Attas, Kristen Eropa (Western Christianity) adalah sebuah entitas yang berbeda dengan Kristen yang dipercaya memiliki akar sesungguhnya di Jerusalem. Ia menulis (hal 20) “Original and True Christianity conformed with Islam.”  Ia juga menulis (hal 21) “Those who from the very beginning had altered the original and departed from the true teaching of Jesus (Peace be upon him) were creative initiators of Western Christianity, the Christianity now known to us.” Bagi al-Attas Kristen Eropa adalah jenis Kristen yang telah berpadu dengan western worldview. Kristen yang telah berevolusi dan menyesuaikan diri dengan peradaban Eropa dengan segala kepentingannya. Apakah ini ada hubungannya dengan pernyataan Frans Magis Suseno, seperti yang dikutip oleh penulis (hal 274) bahwa permusuhan antara umat Islam dan Kristen sepanjang sejarah bukan didasari oleh faktor agama? Apakah faktor Eropa-nya yang berkontribusi? Menarik untuk mengetahui bagaimana penulis mengulas hal ini dan bagaimana ia berkontribusi pada pasang surut hubungan Islam dan Barat.

“Tantangan Untuk Cahaya di Cakrawala”

Menurut penulis buku, Konsili Vatikan II dan “a Common Word Between Us and You” adalah kombinasi yang memberikan harapan besar, sebuah harapan yang disebut dengan “Cahaya di Cakrawala.” Ketika membaca hal ini saya teringat dengan relasi antara saya dengan dua kawan Katolik di Irlandia. Ming adalah mahasiswa S3 University of Manchester, tinggal di Cork. Pria campuran India-China itu telah menjalani masa bakti sebagai misionaris di Myanmar selama lebih kurang 20 tahun. Sekarang dia tinggal di Cork Ireland, bersama istrinya yang memang seorang Corkian. Kami berapa kali ngopi, kadang di coffee shop dan kadang di akomodasi saya. Salah satu hal yang sering kami diskusikan adalah persoalan agama. Diskusi-diskusi itu seperti studi perbandingan agama, dimana saya banyak memperoleh informasi tentang Christianity dari perspektifnya. Sebaliknya dia memperoleh informasi tentang Islam dari perspektif saya pribadi. Diskusi itu, menurut saya, lebih banyak mencari titik persamaan antara agama masing-masing. Menariknya, Ming pernah mengeluhkan nilai-nilai Barat kontemporer yang menurutnya jauh dari nilai-nilai Kristen dan nilai Asia yang ia anut. Ia mengkritik cara bergaul, tata cara pakaian, hingga lunturnya nilai-nilai keluarga. Katanya kurang lebih begini “I am taking care my father in-law, to show my children the way they should take care the elderly people. I want them to treat me the same way.”  Menurutnya ini adalah nilai Kristen dan Asia. Saya setuju. Suatu ketika saya berkata “For me, Islam is the right way, for you Christianity is the right way.” Dan dia setuju.

Michel Drogan adalah seorang penganut Katolik yang taat. Bagi saya Michel adalah anomali. Pria 63 tahun itu sama sekali tidak merokok dan menyentuh alkohol. Ketika dia mengakui itu, saya tercengang dan dia bercanda “I am a good Muslim.” Namun saya percaya, bahwa kebisaan itu muncul dari nilai agama yang ia yakini. Kebetulan saja itu mirip dengan ajaran Islam. Michel adalah sosok yang intens bergaul dengan Muslim. Berkali-kali dia menceritakan biblical stories dan berkali-kali juga dia bertanya tentang ajaran Islam. Dia mengaku selalu berdoa untuk saya, dan dia pun meminta saya berdoa untuknya. Suatu ketika dia bertanya “Isral, I pray to my God to make you having peace in your heart?” Ketika dia bertanya apa doa saya untuk dirinya, saya jawab “I pray to Allah, may He guide you in your life.” Dia tersenyum saja, mungkin dia tahu bahwa ujung dari doa itu adalah agar dia mendapat hidayah. Suatu kali dia berkata, bahwa persoalan kita, yaitu Muslim dan Christian adalah ignorance.  

Mungkin interaksi seperti ini yang disebut sebagai Cahaya di Cakrawala. Setiap pihak meyakini kebenaran agama masing-masing, tanpa harus melecehkan keyakinan masing-masing dan saling menghormati antara satu dengan yang lain. Pengalaman di atas adalah pengalaman pribadi. Dan hal seperti itu adalah lumrah oleh banyak Muslim yang hidup di Eropa. Saya meyakini bahwa Muslim Eropa memandang interaksi yang baik dengan para Christian adalah bentuk dakwah dan ibadah. Hal yang berbeda, biarlah berbeda dan tidak perlu untuk dipaksakan menjadi sama. Inilah Cahaya di Cakrawala; ide dasar di balik ditulisnya ini karya.

Penutup

Ini adalah buku berharga tentang sejarah interaksi dua agama besar dunia, mulai dari era perang salib hingga era seputar lahirnya Konsili Vatikan II dan a Common Word. Membaca buku ini memberi perspective baru tentang apa yang terjadi seputar interaksi kedua agama, termasuk pada kejadian-kejadian yang terjadi baru-baru ini.

Akhir kata, saya mengucapkan Terima kasih kepada Pak Sudibyo Markus atas karya besar ini. Terus terang karya ini membuka beberapa hal baru, yang tidak sempat saya tulis di sini, namun mungkin akan menjadi proyek riset saya di masa yang akan datang. Semoga Allah menjadikan ini sebagai amal jariyah untuk beliau. Aaamiiin.

Referensi

Al-Attas, S. M. A.-N. (1993). Islam and Secularism. Perpustakaan Negara Malaysia.

Lewis, B. (1993). Islam and the West. OUP USA.

Markus, S. (2019). Dunia Barat dan Islam, Cahaya di Cakrawala. Gramedia Pustaka Utama.

*Tulisan ini ditulis dalam rangka bedah buku “Dunia Barat dan Islam, Cahaya di Cakrawala”, yang diadakan oleh UM Sumbar, pada Sabtu 27 Maret 2021, pukul 09.00. Bedah buku itu menghadirkan penulis buku, yaitu Sudibyo Markus dan pembedah lainnya, yaitu Prof. Dr. Komaruddin Hidayat.

Menemukan Ulang Makna Sejarah

Sebuah Catatan dari Kaji Jumat Muhammadiyah Edisi XXIV, tanggal 19 Februari 2021

Sebuah tradisi atau episode sejarah dapat begitu tertanam kuat dalam memori kolektif masyarakat. Aksi-aksi tokoh masa lalu yang telah lama meninggal dunia ataupun tradisi lama dapat menjadi inspirasi dari karakter dan tindakan generasi muda yang jauh di bawah mereka. Itu dapat terjadi selama memori dan tradisi dapat ditemukan lagi maknanya (reinvention). Itulah yang sementara ini saya pahami dari membaca sebuah artikel ilmiah ditulis oleh Powel, berjudul Reinventing the Tradition: Liberty Place, Historical Memory, and Silkstocking Vigilantism in New Orleans Politics.

Kaji Jumat Muhammadiyah edisi XXIV yang berjudul “Peran Tokoh Minangkabau Dalam Pembentukan NKRI” dalam perspektif saya adalah upaya untuk membangkitkan kembali memori kolektif Minangkabau tentang tokoh-tokoh besar mereka.  Tema yang dibawakan oleh Pak Hasril Chaniago dan Prof Zulhasril Nasir itu kembali menyegarkan ingatan kita tentang peran M. Hatta, M. Natsir, Sjahrir, Charul Shaleh, Abdul Halim, Asaat, dan lain-lain dalam perumusan konsep NKRI dan impelementasinya.

Seperti yang ditulis Powell, kolektif memori tidak akan dapat menjadi inspirasi jika ia tidak mengalami personalisasi. Cara tema ini dibahas oleh narasumber dan bagaimana para peserta memberikan tanggapan saya lihat adalah sebuah proses personalisasi yang amat baik. Kita waktu itu tidak hanya berbicara sejarah dan data-datanya, tapi kita menerobos lebih dari pada itu. Ada upaya-upaya untuk memahami -meminjam istilah Sewell Jr- the logic of history atau logika sejarah; kenapa begini dan kenapa begitu. Sebagai tambahan dari itu, saya merasakan bahwa kita membicarakan tema tidak hanya pada sisi logis tapi juga rasa. Pakai raso jo pareso. Artinya, apa yang kita lakukan kemarin ini adalah sebuah proses yang disebut dengan personalisasi.

Ketika sejarah telah mengalami personalisasi, maka disana muncul upaya untuk menemukan ulang makna sejarah (reinvention). Proses ini terlihat jelas dalam diskusi yaitu ada upaya untuk menanyakan alasan di balik tindak tanduk pelaku sejarah itu, dan ada upaya untuk membandingkan dengan tindak-tanduk kita hari ini. Ini salah satunya terlihat dari pernyataan Prof Ismet yang mana kurang lebih dia berkata “kita sekarang ini sepertinya berpikir lebih kaku sebagai negarawan”. Terlepas dari setuju atau tidaknya pada kesimpulan sementara Prof Ismet itu, terlihat jelas bahwa ini adalah upaya untuk menemukan ulang makna sejarah sebagai kolektif memori.

Berdasarkan pemahaman ini, saya tidak setuju jika ada orang yang berkata bahwa membahas sejarah Minangkabau dan tokoh-tokohnya adalah upaya nostalgia masa lalu yang cenderung tidak berguna. Itu bisa saja benar jika tidak melewati proses seperti yang digambarkan di atas. Namun selama proses “mengenang masa lau” dilaksanakan dengan benar, maka ia adalah upaya untuk memperoleh inspirasi untuk menghadapi masa depan.

Sepertinya pada masa yang akan datang, Kaji Jumat Muhammadiyah akan banyak berbicara tentang sejarah dan tradisi seputar Minangkabau. Perlu kiranya untuk menjadikan pembicaraan hari ini sebagai model. Kita perlu memastikan, ketika berbicara tentang kedua hal di atas, kita perlu melakukan personalisasi dan berupaya untuk menemukan makna. Jika kita lupa dan gagal untuk memastikan ini, maka waktu dua-tiga jam untuk Kaji Jumat Muhammadiyah akan menjadi agak sia-sia. Seperti agak sia-sianya ketika kita menghabiskan menit-menit shalat, tapi lengah akan makna bacaan dan gerakan shalat itu sendiri. Wallahu a’lam.  

Lansia di Minangkabau dan Muhammadiyah Senior College

Sebuah Catatan dari Kaji Jumat Muhammadiyah Edisi XXV, 05 Februari 2021

Tema yang dibahas pada Jumat tanggal 05 Februari 2021 itu adalah usulan dari Prof. Ismet sendiri. Ketika beliau mengirim pesan bahwa beliau berketetapan hati untuk judul tersebut, saya sempat terkejut karena tidak menyangka bahwa beliau akan membahas sesuatu yang tidak jauh dari kehidupan kita. Namun pada akhirnya saya insaf bahwa Minangkabau perlu juga dipandang dari jauh, dari mata para perantau yang telah berkelana. Bukankah sejak dulu, cerita dan pandangan perantau lah yang memunculkan inspirasi perubahan di Ranah Minangkabau?

Sebelum diskusi saya sempatkan diri membaca beberapa referensi tentang persoalan lansia di Minangkabau. Ternyata memang benar, bahwa ini adalah masalah sayat yang luput dari keseriusan berpikir banyak orang. Beberapa kali berita di media masa mengabarkan orang tua yang meninggal dalam sepi di rumah. Beberapa kali pula kabar burung disampaikan, tentang akhir hidup yang tragis dari beberapa lansia. Namun, selama ini itu hanya jadi kesedihan sesaat yang mudah hilang dan tidak pernah dibicarakan lagi, tidak pernah dipertanyakan lagi. Apakah diskusi itu akan memaksa kita berpikir serius tentang persoalan lansia?

Ternyata memang iya. Saya merasa paparan Prof Ismet memberikan nuansa yang aneh pada Zoom Meeting kali itu. Fakta-fakta berikut analisis yang beliau sampaikan menghadirkan kepiluan. Cerita tentang seorang ibu yang dititipkan di panti jompo lewat tipu daya anak kandung sendiri adalah tragedi. Ada beberapa cerita lain yang memiliki satu inti: bahwa mereka -para lansia- kecewa karena menjalani hidup dalam situasi yang tidak terbayangkan sebelumnya. Itu semua adalah tragedi. Berkumpul dengan anak cucu dalam situasi damai dan tenang, seperti yang dialami oleh orang tua mereka dulunya, tidak bertemu dalam kenyataan.

Ada nuansa kesedihan di ruang virtual siang itu. Ada pula rasa malu. Malu karena begitu sering kita mengagungkan adat istiadat Minangkabau, namun banyak orang-orang tua kita hidup dalam kesepian yang pedih. Selain paparan Prof Ismet, ada dua frasa lain dalam diskusi itu yang terus terngiang. “Bantu mereka masuk surga” kata Pak Hasril Chaniago. Lalu yang satu lagi kurang lebih begini “kami bahagia jika merasakan bahwa anak-anak muda memerlukan cerita dan pengalaman kami”, kata seorang peserta yang merupakan warga senior. Jika tidak salah Prof Zulhasril Nasir lah yang berkata demikian.  

Saya merasa pertemuan siang itu begitu menuntut, menuntut kita untuk melaksanakan sesuatu. Yaitu menggerakkan potensi Muhammadiyah untuk membantu para lansia Minangkabau tetap stabil secara mental. Saya pribadi sempat mengabaikan ide macam begini. Namun pada akhirnya tersadar bahwa untuk apa kita mengundang orang untuk berbicara tentang soal kita, jika kita tidak menindak lanjutinya dalam bentuk aksi nyata?

Untuk itu lah saya usulkan sebuah rencana aksi, yang ditulis di sela-sela menulis disertasi. Sampai rencana aksi itu tersusun, saya cukup puas dan lapang hati sebab tuntutan intelektual tingkat awal sudah selesai diupayakan. Untuk selanjutnya adalah tergantung kebersamaan, sebab Muhammadiyah Senior College yang diusulkan itu hanya bisa terwujud jika kita berada dalam rasa dan pikiran yang sama.  

Muhammadiyah Senior College sendiri adalah sebuah tawaran ide untuk Muhammadiyah agar dapat memenuhi tuntutan ideologisnya untuk berdakwah pada segment lansia. Ia adalah lembaga pendidikan non-formal dimana lansia menjadi “mahasiswanya”. Lembaga pendidikan adalah wadah yang baik untuk menjawab semua kebutuhan mental psikis lansia. Di sana mereka dapat menambah ilmu pengetahuan, memiliki kegiatan rutin, memiliki interaksi sosial, dan lain sebagainya.

Saya membayangkan jika Muhammadiyah Senior College ini berdiri, maka ia juga akan berfungsi sebagai katalis dari begitu banyak kegiatan di internal Muhammadiyah. Bagi UMSB dan Poltekes Aisyiah, ia akan menjadi ceruk untuk kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat. Ini juga membuka berbagai kemungkinan baru untuk kader-kader muda memberikan kontribusi pada dakwah persyarikatan. Ini diprediksi juga dapat menarik berbagai sumber daya manusia baru untuk terlibat dalam menyokong gerakan dakwah Muhammadiyah di Sumatera Barat.

Namun seperti yang disampaikan di awal, Muhammadiyah Senior College hanyalah sebuah ide. Ia tidak akan muncul tanpa kebersamaan, bersama dalam rasa dan pikiran tentang masalah sosial kita di Minangkabau. Wallahu a’lam.   

Catatan:

Kaji Jumat Muhammadiyah Edisi XXV dilaksanakan atas kerjasama Bidang Hubungan Luar Negeri PWPM Sumatera Barat-FAI UMSB dan PWM Sumatera Barat. Mendatangkan seorang narasumber bernama Prof Ismet Fanany, diaspora Minangkabau yang bermukim di Melbourne dan mengajar di Deakin University. Penulis bertindak sebagai moderator.  

KAJI JUMPA MU dan HARAPAN KE DEPAN

Menginjak 01 Januari 2021, salah satu hal yang paling membuat saya bersemangat adalah akan diadakannya Kaji Jumpa Mu edisi pertama tahun baru pada tanggal 08 Januari nanti. Berbeda dengan yang sebelumnya, acara direncanakan dimulai pada pukul 14.00 dengan menghadirkan seorang pembicara yang tengah bermukim di Prancis. Tajuk yang akan diangkat cukup menarik, yaitu “Turki dan Masa Depan Dunia Islam”. Namun tulisan ini bukan untuk mengulas tema itu, melainkan memberikan sedikit pandangan pada Kaji Jumpa Mu (Kajian Jumat Pagi Muhammadiyah) yang sejak dicetuskan karena pandemic, telah diselenggarakan sebanyak dua puluh sesi.

Anak-anak Minangkabau, terlebih yang hidup pada zaman dulu, memiliki sebuah momen inspiratif yang membangkitkan hasrat dan imajinasi untuk merantau. Momen yang dimaksud adalah saat seorang perantau yang baru pulang singgah di surau pada malam hari. Segera saja dia menjadi figur sentral, yang mana cerita-ceritanya ditunggu dan didengar oleh anak-anak surau. Cerita pengalaman rantau inilah yang senantiasa menggoda anak-anak itu untuk berkelana ke luar. Pembaca dapat membaca, salah satunya, buku “Semasa Kecil di Kampung” karya M. Radjab -seorang tokoh pers ternama Indonesia asal Nagari Sumpur- untuk mengetahui bagaimana inspiratifnya momen ini.

Saya membayangkan Kaji Jumpa Mu (Kajian Jumat Pagi Muhammadiyah) memiliki karakter filosofis yang sama dengan momen di atas. Dalam bahasa kekinian, Kaji Jumpa Mu adalah sebuah platform dimana kita dapat datang memperoleh dan berbagai pengalaman dari para perantau, yang dalam hal ini adalah setidaknya adalah “perantau-perantau intelektual”. Memang mungkin saja fisiknya tetap berada bersama kita, tapi perhatian dan pikir nya sudah merantau ke sudut-sudut yang tidak dan belum sempat kita jelajahi. Ketika seorang berbicara di Kaji Jumpa Mu, maka sudah pasti akan memberikan inspirasi kepada mereka yang hadir secara virtual. Yang mana inspirasi tersebut akan mempengaruhi hidup para pendengar dengan caranya masing-masing.

Dengan demikian, saya melihat Kaji Jumpa Mu adalah sebuah platform virtual yang berfungsi sebagai feeder. Sebagai feeder, ia adalah tempat di mana peserta diharapkan terinspirasi oleh materi yang didiskusikan, lalu melanjutkan inspirasi tersebut pada tahapan yang lebih serius. Sebagai contoh, ketika Kaji Jumpa Mu membahas, misalnya tentang Islam dan Pancasila, maka sebaiknya ada kelompok-kelompok yang ingin melanjutkan pembahasan tersebut secara lebih serius dan mendalam. Aspirasi dari kelompok yang terinspirasi ini tentunya harus dijawab Muhammadiyah di Minangkabau dengan membuka sesi diskusi lanjutan yang lebih intens, rinci dan mendalam. Jika hal seperti ini terwujud, saya membayangkan ini akan menjadi salah satu momentum untuk memperkuat karakter Muhammadiyah di Minangkabau sebagai gerakan intelektual.

Harapan Ke depan

Kaji Jumpa Mu telah menunjukkan diri sebagai platform yang inklusif dan berkualitas. Inklusifitas Kaji Jumpa Mu terlihat dari platform ini terbuka untuk semua. Ada pembicara datang dari luar lingkaran Muhammadiyah. Kaji Jumpa Mu juga tampaknya terbuka untuk semua tema. Audien yang hadir juga tidak pernah dibatasi. Ini adalah hal bagus karena Kaji Jumpa Mu telah memungkinkan terkumpulnya banyak perspektif yang tentunya berguna untuk Perserikatan. Kualitasnya tercermin dari tema-tema yang memang disampaikan oleh pakar di bidangnya masing-masing. Yang mana hal ini membuat kita semua dapat informasi yang lebih valid dan ilmiah. Karakter ini mesti dipertahankan untuk ke depannya.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah sisi dokumentasi dan publikasi media masa. Perlu ada kelompok yang bertugas untuk mencatat dan menyimpulkan diskusi dengan sistematika yang baik, sehingga orang-orang yang tidak sempat datang tetap dapat memperoleh gambaran umum tertulis dari jalannya diskusi. Sejauh ini, saya baru menemukan satu dokumentasi tertulis yang dapat dilihat pada link: http://shofwankarim.id/dtlbrt-irman-ajak-berpolitik-dengan-hati-petik-keteladanan-natsirsoekarno.html. Publikasi media masa tentang kegiatan Kaji Jumpa Mu juga penting untuk memastikan lebih banyak orang yang tahu tentang platform ini. Lagi-lagi sejauh ini hanya satu saja kegiatan Kaji Jumpa Mu yang terpublikasi di media masa, yaitu pada link: https://hariansinggalang.co.id/irman-natsir-dan-bung-karno-tetap-bersahabat-meski-berseberangan/. Bukan tidak mungkin dalam jangka panjang, segala dokumentasi dan publikasi dari Kaji Jumpa Mu dapat dijadikan buku yang memperkaya khazanah intelektual Muhammadiyah di Minangkabau.

Hal terakhir. Nama kegiatan, yaitu “Kaji Jumpa Mu” harus dianggap sebagai aset kekayaan intelektual yang harus dilindungi. Rasa bahasa yang saya miliki melihat bahwa Kaji Jumpa Mu adalah nama yang indah dan baik. Sebagai singkatan atau abreviasi, Kaji Jumpa Mu berhasil merangkum seluruh unsur dari nama dasarnya: Kajian Jumat Pagi Muhammadiyah. Lebih dari pada itu, sebagai abreviasi atau singkatan “Kaji Jumpa Mu” sarat dengan nuansa positif. Kata “Kaji” adalah bahasa Minang untuk menggambarkan pembicaraan yang serius. Sedangkan “Jumpa Mu” mengisyaratkan silaturahmi yang penuh dengan cinta dan kehangatan. Tidak berlebihan rasanya jika nama ini didaftarkan, lalu menjadi salah satu pusako tinggi Muhammadiyah Minangkabau.  Wallahu a’lam bisshawab.

“Beginilah Thawalib yang Saya Kenal”

Ada banyak sekolah yang memiliki nama Thawalib di Minangkabau, kendatipun yang terkenal hanya beberapa. Penulis sendiri adalah alumni dari salah satunya, yaitu Thawalib Padang. Alm ayah penulis adalah juga alumni Thawalib Padang, yang kemudian berkecimpung di Muhammadiyah dengan segala keterbatasan yang beliau miliki. Di kemudian hari, penulis dapat cerita dari Ayahanda RB Khatib Pahlawan Kayo bahwa mereka berdua adalah teman dekat, karena sama-sama mengajar di Thawalib Padang dan sama-sama aktif di Muhamadiyah. Nama terakhir adalah legenda hidup Muhammadiyah di Minangkabau. Ia adalah alumni Thawalib Padang Panjang.

Thawalib dan Muhammadiyah adalah dua hal yang identik. Banyak warga, aktivis, dan tokoh menonjol di perserikatan berasal dari Thawalib, tidak hanya Thawalib Padang Panjang tapi juga Thawalib-Thawalib lainnya.

Kedekatan Thawalib dengan Muhammadiyah memiliki akar sejarah. Parapan T Abdullah dalam bukunya Schools and Politics; Kaum Muda Movement in West Sumatra, menunjukkan bahwa saat Minangkabau belum mengenal Muhammadiyah, Thawalib adalah wadah dimana ide-ide pembaharuan pemikiran Islam diolah dan disebarkan oleh Kaum Muda Minangkabau. Madrasah yang berafiliasi pada ide pembaharuan Thawalib berdiri di banyak tempat di Minangkabau. Mereka dijalankan dengan manajemen terpisah, tapi disatukan oleh kesamaan ide dan gagasan. Beberapa madrasah lain didirikan dengan tidak menggunakan embel-embel Thawalib, tapi membawa gagasan yang sama, salah satunya adalah Diniyah Putri.

Paparan T Abdullah menunjukkan bahwa ketika Muhammadiyah diperkenalkan di Minangkabau pada pertengahan dekade ke dua abad 20, organisasi ini mengandalkan banyak alumni Thawalib atau setidaknya orang-orang yang bersinggungan dengan lingkaran Thawalib. Haji Rasul sebagai figur sentral dari introduksi Muhammadiyah di Minangkabau adalah salah satu pendiri utama Thawalib. Keterlibatan pengajar dan alumni Thawalib di Muhammadiyah Minangkabau adalah hal yang wajar, sebab Muhammadiyah adalah media perjuangan baru yang memungkinkan mereka untuk tidak hanya menjalankan agenda pembaharuan di Minangkabau secara lebih masif, tapi juga membantu mereka memiliki koneksi ke seluruh bagian Nusantara.

Kontribusi Kaum Muda lewat Thawalib pada kecintaan terhadap tanah air lewat pergerakan melawan penjajahan Belanda terlalu besar untuk dikesampingkan. T Abdullah memaparkan bahwa sekolah-sekolah Kaum Muda berkontribusi besar pada lahirnya kalangan-kalangan agamis terdidik yang berjuang melawan pendidikan Belanda. Sebagian langsung terjun dalam perjuangan lewat organisasi-organisasi modern. Ada pula yang mengkombinasikannya dengan perlawanan lewat media masa dan jurnal. Salah satunya adalah Jurnal yang berhubungan langsung dengan Thawalib Padang Panjang adalah “Doenia Achirat” (1922-1925).

Kemunculan Thawalib sebagai jaringan sekolah di awal abad 20 adalah hal yang luar biasa. Pertama, tidak mudah bagi Kaum Muda untuk teguh melawan arus dimana mendirikan sekolah ala Belanda dianggap meniru-niru orang kafir, terutama oleh Kaum Tua. Cap itu secara teologis tampaknya memiliki konsekwensi sosiologis yang berat, apalagi dalam konteks Minangkabau saat itu. Namun, Kaum Muda berhasil menunjukkan kepada masyarakat bahwa hal itu justru bermanfaat dan tidak seperti yang dianggap oleh Kaum Tua. Bahkan, seperti yang disebut oleh Zaim Rais dalam “The Minangkabau Traditionalists’ Response to The Modernist Movement”, upaya Kaum Muda dalam mendirikan sekolah ala Barat akhirnya juga ditiru oleh Kaum Tua untuk mempertahankan eksistensi mereka.

Kedua, juga tidak mudah mencari celah dari peraturan Belanda sehingga bisa berdiri sekolah Islam yang modern. T Abdullah memaparkan bahwa mulai akhir abad ke 19, Belanda memang mengizinkan nagari-nagari di Minangkabau untuk mendirikan sekolah atas persetujuan dan supervisi Belanda. Kebijakan itu didorong atas setidaknya dua faktor. Pertama, meningkatnya kebutuhan Belanda terhadap tenaga-tenaga lokal yang cakap yang dapat menjalan administrasi pemerintahan. Kedua, keterbatasan Belanda untuk mendirikan sekolah yang dapat langsung mereka biayai sendiri. Tentu saja Belanda tidak pernah membayangkan dan mengharapkan, kebijakan ini akan dimanfaatkan oleh kelompok tertentu untuk mendirikan sekolah-sekolah agama. Namun akhirnya Kaum Muda dengan karakter kemadjoean yang begitu kental, berhasil mendirikan sekolah agama yaitu jaringan pendidikan Islam Thawalib secara legal.

Jadi, Thawalib dan orang-orangnya telah berkecimpung dalam ide dan gagasan besar pembaharuan pemikiran Islam di Minangkabau dan Nusantara. Sejak awal terlahir, Thawalib adalah tentang gerakan kemajuan, aksi ketimbang reaksi, kecerdasan, keteguhan dan kemandirian berfikir.

Tentu saja saya pribadi dan juga banyak pihak lain terus berharap, sekolah-sekolah Thawalib utamanya Perguruan Thawalib Padang Panjang tidak melupakan keagungan sejarah perguruan mereka, sehingga tidak terjebak pada hal-hal yang memicu kontroversi yang tidak perlu di tengah masyarakat. Aamiin. Wallahu a’lam bis shawab.

Featured image diambil dari: https://www.harianhaluan.com/news/detail/98259/109-tahun-perguruan-thawalib-sekolah-islam-modern-pertama-di-sumatera-barat

Orang Minang dan Ulama Mereka

Mencermati Indonesia, sejak dulu hingga sekarang akan membawa kita untuk menyaksikan banyak hal. Salah satunya adalah kemunculan kelompok-kelompok yang mendukung individu tertentu secara fanatik. Individu yang menikmati fanatisme buta pendukungnya dapat dijumpai dalam berbagai bidang utamanya dalam politik dan agama.

Tulisan ini adalah tentang cerita masa lalu, tentang bagaimana orang Minangkabau menyikapi keberadaan tokoh mereka, yang dalam hal ini adalah ulama. Karena keterbatasan data, penulis sengaja membatasi “masa lalu” di sini dimulai pada era sekitaran awal abad 20 dan dalam konteks kaum muda Minangkabau. Perbendaharaan masa lalu adalah khazanah penting untuk memahami lebih jauh tentang siapa kita hari ini, yang mana sangat berguna untuk menentukan ke arah mana biduk akan diarahkan untuk menyongsong masa depan.

Orang Minangkabau dan Islam adalah perpaduan yang unik. Menurut Taufik Abdullah, teori C Geertz dimana masyarakat Muslim dibagi menjadi kelompok santri dan abangan hanya berlaku di Jawa, tapi tidak di Minangkabau. Buya Hamka pernah menjelaskan bahwa Islam di Minangkabau adalah perpaduan antara susu dengan air dan minyak. Yang mana ini berarti, memang kita dapat mudah mengidentifikasi aspek-aspek yang bersifat budaya, tapi kebanyakan budaya tersebut memperoleh semacam argumentasi religious yang mempertahankan keberadaannya. Sebagai contoh, harta pusaka tinggi yang diwariskan secara matrilineal disepakati sebagai wakaf komunal. Di Minangkabau tidaklah asing seorang tokoh adat adalah seorang ulama atau seorang ulama menjadi tokoh adat; menjadi pimpinan adat atau sekedar menjadi rujukan dari persoalan adat.

Sebagai tambahan dari itu, Minangkabau adalah kelompok masyarakat yang oleh para ahli, seperti Kato, Hadler dan lainnya, disebut sebagai masyarakat yang cenderung egaliter. Egalitarian Minangkabau adalah bukan benda asing yang didatangkan dari luar, melainkan sesuatu yang lahir dari kebudayaan mereka. Itu terlihat dari pepatah petitih Minangkabau tentang beberapa aspek kehidupan. Misalnya tentang kepemimpinan, bahwa seorang pemimpin adalah orang yang didahulukan hanya selangkah dan ditinggikan hanya satu ranting. Ada pepatah lain yang juga mengizinkan anak muda “melawan” guru yang memegang otoritas keilmuan atau melawan mamak yang memegang otoritas adat. Perlawanan itu diizinkan bahkan didorong selama dengan argumentasi dan kebenaran.

Posisi ulama di Minangkabau pada dasarnya adalah salah satu unsur utama dari konsep tungku tigo sajarangan. Secara tradisional, kepemimpinan di Minangkabau bersifat kolektif dimana musyawarah adalah metode pengambilan keputusan. Mereka yang terlibat langsung dalam kaki musyawarah terdiri dari tiga pihak, yaitu tokoh adat, ulama dan cerdik pandai. Ketiganya ibarat tungku yang memastikan bejana memiliki kedudukan yang seimbang. Adu argumentasi antara ketiganya adalah api yang dapat membuat keputusan menjadi “masak dan enak”.

Dari sini terlihat bahwa ulama di Minangkabau tidak memiliki kedudukan sebagai orang suci yang mana seluruh titahnya dianggap sebagai titah langit yang mesti dilakukan. Memasangkan ulama dengan dua unsur lainnya dalam kepemimpinan kolektif menunjukkan ada kesadaran bahwa ulama juga manusia yang memiliki keterbatasan, sehingga perlu jenis manusia lain untuk berdampingan dengannya. Ulama pasti menjadi rujukan dalam hukum agama, namun persoalan sosial perlu dipecahkan dengan mengumpulkan perspektif lain yang diperoleh dari pemangku adat dan cerdik pandai.

Sejak kemunculan semangat pembaharuan Islam di Minangkabau, yaitu pada awal abad ke 20, jalan untuk menjadi ulama terbuka lebar untuk semua anak Minangkabau. Taufik Abdullah menyatakan bahwa jika sebelum itu kebanyakan ulama berasal dari keluarga ulama juga, maka maraknya sekolah agama yang didirikan oleh kaum muda menjadikan siapapun bisa memperoleh status menjadi ulama. Salah satu yang cukup fenomenal adalah Syekh Muhammad Djamil Djambek. Beliau bukan berasal dari keluarga ulama, bahkan sempat menjadi parewa semasa mudanya.

Suasana egalitarian ala Minangkabau memungkinkan terjadinya perdebatan intelektual yang cukup baik. Awal abad 20 adalah dimana terjadi diskursus intelektual terbuka antara kaum muda dan kaum tua, antara pembaharu dan tradisionalis. Kaum muda pada umumnya adalah orang-orang dulunya tumbuh di lingkungan tradisionalis, keluar merantau, mendapat pencerahan, lalu kembali dengan ide baru sekaligus menggugat pemahaman lama. Misalnya Haji Rasul, memiliki ayah seorang imam tarikat tidak membuatnya segan menyerang praktik tarikat yang menurutnya sarat taqlid, bid’ah dan khurafat sehingga Muslim Minangkabau terhalang dari kemadjoean. Ini menyebabkan Haji Rasul diboikot oleh pengikut ayahnya. Padahal awalnya dia sangat diharapkan menjadi pemimpin berikutnya, melanjutkan peran sang ayah.

Dikenal luas sebagai anak Haji Rasul tidak membuat Buya Hamka mudah mengklaim status sebagai ulama Minangkabau. Terdapat suatu periode dimana dia mendapat gunjingan dan cemooh dari orang-orang se-Padang Panjang sebagai pemuda yang hanya cakap berpidato tapi tidak kuat di ilmu alat. Ini mendorongnya “kabur” ke Makkah untuk memperkuat ilmu alat. Terdapat masa lain ketika Buya Hamka terlibat perdebatan keras dengan Khatib Sulaiman, seorang tokoh kiri yang kemudian diakui Hamka sebagai salah satu sahabat terbaiknya. Itu semua diceritakan dengan apik oleh beliau sendiri dalam Kenang-kenangan Hidup.

Mendebat guru di lingkungan tradisionalis juga terjadi, dan dapat dilihat pada buku M Radjab, Semasa Kecil di Kampung. Tokoh pers nasional ini mengenang, bahwa ia pernah mempertanyakan tujuan belajar ilmu nahwu-sharaf kepada gurunya, yang mana pertanyaan itu tidak terjawab dengan baik. Memiliki ayah seorang ulama surau tradisionalis tidak menghalanginya untuk kritis terhadap lingkungannya, yang ia pikir tidak progresif. Bahkan ia juga kritis terhadap kelompok kaum muda di kampungnya, yang ia anggap suka menggampangkan urusan agama.

Secara tradisional, tampaknya budaya Minangkabau memang mengarahkan orang untuk lebih mempertimbangkan ide ketimbang sosok. Ini menyebabkan berkembangnya daya kritis dan minimnya kultus individu di Minangkabau, termasuk pada sosok ulama dan guru. Lawan mamak jo pituah, bantah guru jo kabanaran (lawan lah mamak dengan petuah dan bantah lah guru dengan kebenaran) mengandung nilai yang mesti dilestarikan. Pepatah ini mengajarkan kita pada beberapa tiga penting, yaitu: (1) mendukung sosok secara rasional bukan karena kultus, (2) memelihara daya kritis terhadap semua pihak, dan (3) bertanggung jawab atas daya kritis tersebut dengan cara membangunnya atas argumen yang masuk akal. Jika dengan ulama orang Minangkabau bisa menunjukkan sikap kritis, apalah lagi dengan sosok politisi. Wallahu a’lam bis shawab.

Featured image diambil dari https://hmasoed.wordpress.com/category/ulama-zuama-minangkabau/

<p class="has-drop-cap has-xs-font-size" value="<amp-fit-text layout="fixed-height" min-font-size="6" max-font-size="72" height="80">Featured image diambil dari https://id.wikipedia.org/wiki/Abdullah_AhmadFeatured image diambil dari https://id.wikipedia.org/wiki/Abdullah_Ahmad